IWD2026: The Girls in My Classroom at Lé Orin
| Credit: DOERS/Shutterstock |
Setiap sore, ketika saya memasuki ruang kelas di Lé Orin, sering kali energi saya sudah hampir habis setelah seharian bekerja di kampus. Namun, suasananya segera berubah. Ruangan akan terasa menjadi lebih hidup. Kehangatan dan energi memenuhi kelas ketika berjumpa dengan anak-anak, terutama anak-anak perempuan yang kerap datang dengan penuh canda, kadang riuh oleh tawa.
Di salah satu kelas, Pricil adalah satu-satunya anak perempuan di antara tiga anak laki-laki. Namun, justru kehadirannya memberi irama yang hidup dan ceria pada kelas itu. Entah bagaimana, kelas terasa lebih bersemangat. Anak-anak perempuan sering membawa dinamika yang khas ke dalam ruang belajar. Mereka mudah tertawa, cepat bereaksi, dan ketika bermain game pembelajaran seperti Kahoot!, Blooket, atau permainan lainnya, mereka bisa menjadi sangat kompetitif. Melihat mereka bermain, ngakak, heboh, dan kadang protes ketika kalah, selalu mengingatkan saya bahwa bagi anak-anak, bahkan tantangan kecil pun terasa sangat penting.
Seiring waktu, saya juga melihat bagaimana energi mereka berubah ketika mereka bertumbuh. Saat masih kecil, mereka biasanya sangat ekspresif, penuh rasa ingin tahu, banyak ngomong, dan berani angkat tangan. Ketika memasuki masa awal remaja, sesuatu mulai berubah. Banyak dari mereka menjadi sedikit lebih pemalu, lebih berhati-hati dalam berbicara, kadang sedikit jaim. Namun, ketika mereka sudah di bangku SMA, energi itu sering kembali dalam bentuk yang baru: lebih percaya diri, lebih reflektif, dan lebih mengenal diri mereka sendiri.
Di antara anak-anak perempuan di kelas saya, yang paling muda ada Rachel dan Eleanor, yang berusia sekitar lima atau enam tahun. Eleanor adalah anak yang ceria dan penuh energi. Ia mudah tersenyum dan selalu membawa kegembiraan ke dalam kelas. Rachel juga memiliki momen-momen manis dan cheerful-nya sendiri. Kadang-kadang, ketika kakaknya sedang mengikuti kelas, ia akan muncul diam-diam di pintu hanya untuk memastikan apakah sudah gilirannya untuk belajar. Momen-momen kecil seperti itu membuat Lé Orin terasa bukan sekadar tempat belajar, tetapi sebuah komunitas kecil.
Dari cerita-cerita mereka, saya juga belajar sesuatu yang indah: ibu mereka tampaknya menjadi pusat dunia mereka. Suatu kali ketika kami membuat kartu ulang tahun di kelas, Eleanor memilih membuat kartu untuk mamanya. Dan setiap kali kami menggunakan gambar seorang perempuan dalam pelajaran, Rachel kadang menunjuk dan berkata, “That's my mom!” Dalam momen-momen seperti itu, terlihat jelas betapa anak-anak memandang ibu mereka sebagai teladan pertama dalam hidup mereka.
Di tingkat SD, saya mengajar siswi seperti Pricil, Nadya, Cinta, Ellea, Katie, dan Kayleen. Masing-masing membawa kepribadian yang berbeda ke dalam kelas. Pricil ceria dan percaya diri. Nadya juga memiliki super bright energy. Cinta adalah pembelajar yang sangat cepat (fast learner). Saking cepatnya, sekarang dia sudah mengikuti kelas teens.
Ellea adalah anak yang tenang dan penurut. Dia mudah beradaptasi dan memiliki kemauan belajar yang tinggi. Katie adalah anak yang sangat cerdas, bukan hanya secara intelektual tetapi juga secara emosional. Dia penuh empati terhadap orang-orang di sekitarnya. Sementara itu, Kayleen sering membuat saya berpikir bahwa dia adalah a future woman leader in the making dengan pengetahuan yang luas dan ide-ide yang brilian.
Melihat mereka bertumbuh dalam kepercayaan diri adalah salah satu bagian paling membahagiakan dari menjadi seorang guru. Pricil, misalnya, belajar di kelas bersama tiga anak laki-laki. Secara fisik dia lebih besar dari banyak anak seusianya. Namun, dia tidak membiarkan hal itu membuatnya merasa kecil. Dia tetap ceria, aktif berpartisipasi, dan hadir di kelas dengan penuh percaya diri.
Anak remaja perempuan di kelas saya, Aisyah, Angel & Alia, membawa dinamika yang berbeda lagi. Seperti banyak remaja pada umumnya, mereka bisa tampak pendiam (banget) pada awalnya. Namun, di balik itu, mereka sangat cerdas dan penuh ide. Kadang ide-ide mereka muncul perlahan, tetapi ketika mereka berbicara, jawabannya sering kali sangat menarik. Aisyah sering bercerita bahwa dia ingin menjadi seorang baker saat dia besar nanti. Mendengar anak-anak menceritakan mimpinya selalu terasa seperti menyaksikan masa depan yang perlahan mulai mereka bentuk.
Saat pertama kali bergabung di kelas, anak-anak perempuan biasanya datang dengan penuh semangat dan rasa ingin tahu. Anak-anak yang lebih kecil, terutama usia 10 tahun ke bawah, sangat suka bercerita. Tentang sekolah, teman-teman, atau hal-hal kecil yang terjadi di rumah. Seiring waktu, mereka mulai menyatu dengan teman-teman sekelasnya, menjalin persahabatan, dan memiliki suara mereka di dalam kelas.
Ada juga momen-momen kecil yang menunjukkan bagaimana mereka memandang diri mereka sendiri. Kadang ada anak perempuan yang berkata, “Miss, girls first!” atau “Kan aku perempuan!” Seolah-olah menjadi perempuan secara alami membawa rasa tanggung jawab, untuk membantu, memimpin, atau menjaga orang lain. Kalimat itu sederhana, tetapi sering kali menunjukkan kepercayaan diri yang perlahan mulai tumbuh dalam diri mereka.
Mengajar anak-anak perempuan ini juga membuat saya berpikir tentang keluarga yang membesarkan mereka. Berkali-kali saya melihat tanda-tanda bahwa mereka dibesarkan oleh ibu-ibu yang luar biasa. Kita bisa mendengarnya dari cara mereka berbicara tentang ibu mereka, dari kasih sayang yang mereka tunjukkan, dan dari nilai-nilai yang mereka bawa ke dalam kelas. Jauh sebelum mereka datang ke kelas, sudah ada seseorang di rumah yang mengajarkan mereka tentang kebaikan, kepedulian, dan keberanian.
Sometimes I find myself imagining these girls ten or fifteen years from now. I hope they succeed in their studies and pursue whatever dreams they carry within them. More importantly, I hope they grow into women who are kind to the world, women who show empathy, who support others, and who empower the people around them.
If I could leave them with one message for the future, it would be this: Be brave enough to become the woman you want to be, and kind enough to help others do the same.
Every day in my classroom, I see small signs that this future is already beginning.
Walaupun tulisan ini bercerita tentang anak-anak perempuan di kelas saya di Lé Orin, hari ini saya juga ingin merayakan para perempuan yang bekerja bersama saya di Lé Orin. Tim kami seluruhnya terdiri dari perempuan yang dengan sabar, penuh perhatian, dan penuh dedikasi mengajar dan melayani anak-anak kami. Terima kasih karena tidak hanya menjadi guru, staf, dan rekan kerja yang luar biasa, tetapi juga teman seperjalanan yang saling mendukung.
Dan jika ada saat-saat ketika saya belum menjadi pemimpin atau rekan kerja yang terbaik, saya berharap kalian tahu bahwa saya juga sedang belajar. Just like our students, I am still growing.
Selamat Hari Perempuan untuk semua anak perempuan di Lé Orin, dari toddler sampai teens, serta untuk para perempuan luar biasa di sekitar anak-anak ini: para guru, tim Lé Orin, para mama, nenek, dan sus yang setiap hari membantu mereka tumbuh dan berkembang.
Lé Orin, 8 Maret 2026
Ms. Hermina




0 Comments