Oleh : Hermina W. Wulohering

  1. PENDAHULUAN


Konflik antara orang Madura dan Dayak telah menjadi masalah yang fenomenal di tanah air. Interakasi di antara keduanya bahkan kemudian sampai pada konflik berdarah. Konflik ini dapat dianalisis dalam peranan sosial, ekonomi, budaya dan politik dimana orang dayak diasumsikan tidak mendapatkan keadilan dari sistem yang ada sehingga melampiaskan kejengkelannya terhadap orang Madura. Di samping itu perbedaan latar belakang etnisitas beserta budaya antara keduanya juga merupakan salah satu penyebab konflik karena keduanya sama-sama berkeras dalam memelihara dan mempertahankan identitas kultural etnis masing-masing. Orang Dayak dan orang Madura sama-sama menempatkan kelompok etnisnya sebagai wadah sosial untuk membentuk identitas kulturalnya yang saling berbeda sehingga muncul pemicu konflik di antara keduanya.
Tulisan ini lebih terfokus pada konflik antara orang Madura dan orang Dayak Kanayatn di Salatiga, Kabupaten Landak, Kalimanatan Barat.
  1. ISI
Desa Salatiga terletak di antara tiga kota, yaitu Anjungan-Menjalin-Mandor. Desa Salatiga menjadi salah satu desa yang berada dalam wilayah administratif Kabupaten Landak yang beribukota di Ngabang sejak Juli 2000. Sebelum konflik Dayak-Madura 1997, Desa Salatiga masuk ke dalam wilayah adminisratif Kabupaten Pontianak. Desa Salatiga terletak pada dataran yang rata dan subur sehingga sangat cocok untuk persawahan padi, perkebunan karet, kelapa dan berbagai jenis tanaman lainnya. Dengan adanya jalan raya lintas negara yang membelah Salatiga serta adanya sarana transportasi umum, akses dari dan ke luar daerah Salatiga menjadi mudah. Penerimaan orang-orang Salatiga baik dari etnis Dayak Kanayatn maupun Cina cukup terbuka. Kondisi-kondisi tersebut mendukung kedatangan orang dari etnis lain ke Salatiga, antara lain Madura, Jawa dan Melayu.
Jika dilihat dari berbagai faktor pendorong dan penarik di atas, maka hal-hal tersebut sesuai dengan beberapa kriteria yang biasa digunakan oleh orang Madura dalam mencari tempat baru, selain masyarakat yang mempunyai toleransi tinggi dan dominasi kultural etnis setempat tidak terlalu kuat.

Kedatangan orang Madura di Salatiga semakin menambah pengetahuan orang Dayak Kanyatn terhadap orang Madura. Orang Dayak Kanayatn semakin mengenal bahawa orang Madura itu merupakan orang yang ulet dalam mencari penghidupan yang lebih baik.
Dalam sejarahnya, sejak orang Dayak Kanayatn berinteraksi dengan orang Madura di Salatiga muncul berbagai citra orang Madura di mata orang Dayak Kanyatn. Pengetahuan, persepsi, dan opini merupakan salah satu latar belakang terjadinya konflik antara orang Dayak dengan orang Madura. Sejak akhir tahun 1950 orang Madura dan orang Dayak Kanaytn Salatiga sudah saling berinteraksi satu sama lain sehingga orang Dayak Kanaytn memilki citra tertentu tentang orang Madura. Pada awalnya berbagai citra yang melekat pada orang Madura tersebut relatif tidak menimbulkan penolakan dari orang Dayak Kanayatn.

  • Pengetahuan, Persepsi dan Opini
Citra kolektif yang dibangun oleh orang Dayak meluas menjadi pemikiran individu atau dengan kata lain citra individu dipaksa tundukn pada citra kolektif. Jadi citra orang Madura di mata orang Dayak Kanaytn tunduk pada citra kolektif. Pengetahuan, sikap dan tindakan orang Dayak Kanayatn dalam relasinya dengan orang Madura merupakan pengalaman orang Dayak Kanayatn sebagai unsur-unsur yang menghasilkan citra orang Madura di mata orang dayak Kanayatn. Pengetahuan, sikap dan tindakan merupakan hasil dari proses kultural yang disebabkan oleh interaksi sosial yang ditandai dengan terjadinya konflik dan komunikasi antardua kelompok etnis.
Pencitraan orang Madura di mata orang dayak Kanayatn muncul, tenggelam melalui berbagai pengalaman akan kekerasan yang dilakukan oleh orang Madura mempengaruhi sikap dan tindakan orang Dayak Kanayatn. Kekerasan khas orang Madura yang dikenal dengan istilah carok sering dipraktekkan kepada orang Dayak Kanayatn – dalam hal ini konflik personal. Konflik-konflik individual ini mempengaruhi relasi antara orang Madura dan orang Dayak Kanayatn. Citra Madura suka melakukan kekerasan diterima dan menyebabkan orang Dayak Kanayatn menyingkir, meneror sesamanya bahkan berkleahi. Meski ada citra orang Madura itu baik, namun citra tersebut cenderung tenggelam sebab citra yang paling mempengaruhi adalah bahwa orang Madura suka kekerasan.

Berbagai peristiwa khususnya konflik yang pada awalnya merupakan konflik individual kian memperteguh pandangan orang Dayak Kanayatn bahwa orang Madura suka memaksakan kehendak, suka menantang, pemberani, suka membawa senjata tajam di balik bajunya dan mudah menghunus senjata tajam. Konflik antara tokoh masing-masing etnis pun berdampak pada kelompoknya masing-masing. Hal ini disebabkan keduanya mempertahankan harga diri masing-masing kelompoknya.
Akibat peristiwa-peristiwa kekerasan yang sering terjadi ini, di kalangan orang Dayak Kanayatn mulai timbul rasa takut dan was-was, yang justru menumbuhkan solidaritas orang dayak kanayatn sebagai kelompok yang bernasib sama di hadapan madura, yaitu terancam. Terhadap beberapa masalah, orang-orang Dayak Kanayatn hanya dapat memilih sikap diam. Interaksi orang Dayak Kanayatn dengan orang Madura pun perlahan-lahan semakin luntur.
  • Politik dan Peranan Sosial
Pada rentang tahun 1964-1971, Desa salatiga mengalami lima kali pergantian pemimpin yang kesemuanya diambil dari etnis Madura. Sejak tahun 1969 jabatan kepala desa merangkapsekaligus sebagai ketua adat. Lembaga adat mulai diabaikan. Nama-nama dusun pun ikut diubah. Otoritarianisme negara atas desa begitu kuat sehingga daerah-daerah yang ingin mempertahankan nama daerah dengan istilah setempat sama sekali tidak diberi kesempatan kecuali ada petunjuk dari pusat (Jakarta). Kepemimpinan Desa Salatiga semakin tidak otonom lagi. Rekayasa nama desa, pemerintah desa sangat berbau Jawa (Madura).
Lembaga sosial nonformal yang penting di Salatiga adalah lembaga adat. Adat di kalangan orang-orang Dsayak dipandang sebagai suatu perangkat nilai, hukum warisan nenek moyang orang-orang Dayak yang sifatnya sakral, magis dan religius.
Adanya organisasi sosial Madura, kuatnya hubungan di antara orang Madura sendiri serta adanya konflik Dayak-Madura di derah lain (seperti Kab. Sambas) kian mendorong perpindahan orang Madura ke Salatiga hingga jumlah mereka menjadi mayoritas. Dominasi kultural orang Madura di Salatiga pun dirasakan semakin mencolok, antara lain ditunjuikkan dengan adanya praktik budaya khas Madura, misalnya kebiasaan membawa senjata tajam (pisau, clurit) jika bepergian, adanya kasus-kasus kekerasan carok, dan penggunaan bahasa Madura dalam kehidupan sehari-hari di antara mereka. Namun, warga non-Madura (terutama Dayak Kanayatn) bersikap seolah toleran seperti tidak mempersoalkan kekerasan carok yang sering terjadi, meskipun secara sosial peristiwa-peristiwa kekerasan tersebut membuat mereka takut dan meresahkan mereka.
  • Ekonomi
Orang Madura memiliki etos kerja dan jiwa wirausaha yang kuat sehingga sanggup bekerja keras, menderita, dan hidup hemat. Etos kerja ini didorong rasa malu ('todus') yang tecermin dalam pepatah 'ango'an potea tolang, e tebang pote mata' (lebih baik putih tulang, daripada putih mata). Maknanya adalah lebih baik mati daripada gagal dalam kehidupan di rantau.
Solidaritas sosial mereka sangat tinggi. Banyak migran Madura ke Kalimantan Barat tanpa membawa modal usaha sepeser pun. Mereka yakin, keluarga atau teman-temannya di rantau akan membantu. Kombinasi solidaritas dan kerja keras itu membuat mereka menguasai sektor-sektor perdagangan tertentu, sehingga orang-orang non-Madura yang lebih dulu bergerak di bidang itu terdesak, bahkan tersingkir. Migran Madura terkadang merebut kesempatan kerja dan pemilikan barang melalui kekerasan atau intimidasi - tidak lagi melalui jalan yang sah.


Ketakutan akan peristiwa pembunuhan (carok) oleh orang Madura terhadap orang Dayak Kanayatn diperdalam dengan adanya carok antarsesama orang Madura membuat beberapa keluarga orang Dayak Kanayatn pun memilih untuk pindah, keluar dari daerahnya sendiri. Keluarga-keluarga orang Madura dari daerah lain berdatangan mengisi tempat-tempat/tanah yang dianggap kosong.
Menanggapi situasi yang ada, Orang Dayak Kanayatn menerima citra Madura dalam wujud memilih tindakan untuk melawan. Mereka berkumpul pada sebuah kampung untuk mengadakan upacara adat untuk mendatangkan kekuatan supranatural dari kamang ‘roh halus’. Mereka meminta tolong kepada kamang karena tidak mampu mengalami lebih lama lagi rasa takut dan terancam. Dengan kata lain, orang Dayak Kanyatn berada dalam frustasi. Pada saat pelaksanaan upacara ini, citra madura suka kekerasan mencapai kematangannya dalam mempengaruhi rasa, sikap, dan tindakan orang Dayak Kanayatn sebagai reaksinya atas situasi sosialnya yang terancam.
Pada puncaknya di awal Februari 1997 saat konflik pecah orang Dayak Kanayatn (juga Dayak lainnya) dan orang Madura sama-sama menggunakan simbol-simbol etnisnya menunjukkan bahwa dalam konflik tersebut kesadaran etnis kedua belah pihak sangat mencolok. Simbol-simbol itu menjadi alat untuk memudahkan masing-masing pihak untu mengidentifikasi kawan dan lawan. Dengan demikian terjadilah perang identitas ala Dayak Kanayatn dengan Madura. Sentimen etnis semakin tajam. Pembakaran rumah dan harta benda termasuk pemusnahan ternak pihak lawan juga menjadi ciri khas akibat kekerasan dalam peristiwa berdarah itu. Ini menunjukkan bahwa Madura bagi orang Dayak kanayatn bukanlah manusia saja melainkan segala sesuatu yangberhubungan dengan orang Madura. Dalam konflik di Salatiga ini pula hampir semua golongan orang dayak Kanayatn terlibat. Selain itu mereka menyebut tindak kekerasannya dalam peristiwa ini sebagai baparakng babunuh (berperang berbunuhan), bukan bakalahi (berkelahi), bukan pula babunuh (berbunuh).
Pasca konflik hanya ada beberapa keluarga Dayak Kanayatn yang ketika peristiwa berlangsung tidak turut mengungsi. Bahkan mereka merasa tidak perlu pergi dari salatiga, meskipun rasa wass-was itu menghantui mereka. Setelah lebih dari seminggu pihak Madura tidak kembali ke Salatiga dan warga Dayak Kanayatn Salatiga yang mengungsi mulai datang untuk memantau kondisi Salatiga yang ternyata sudah cukup aman dan mereka kembali ke Salatiga. Sementara itu tidak ada tidak ada seorangpun warga Madura yang kembali ke Salatiga bahkan hanya untuk melihat-lihatkondisi. Orang Dayak Kanayatn merasa mampu mengusir orang Madura dari salatiga sehingga mendorong warga Dayak Kanayatn dari berbagai daerah lain.
PENUTUP
Orang Dayak Kanyatn tidak saja dapat mencitrakan fakta maupun nilai orang Madura, tetapi dengan citra tersebut orang Dayak Kanyatn beradaptasi dengan lingkungannya. Dalam hal ini, orang Madura merupakan bagian dari lingkungan sosialnya. Akhirnya, apa yang telah diuraikan di atas menjelaskan ada relasi antara pengetahuan dan sikap, dengan terbentuknya citra Madura maupun citra dari orang Dayak Kanayatn. Analisis konflik Madura-Dayak Kanayatn ini menggunakan sintesis teori konflik mikro dan makro. Di mana dapat pencitraan sebagai hasil dari pengetahuan, persepsi dan opini orang Dayak Kanayatn terhadap orang Madura merupakan bagian dari teori konflik mikro. Sedangkan faktor politik, ekonomi dan peranan sosial adalah bagian dari teori konflik makro. Meski demikian kami lebih mencondongkan pemikiran akan sebab konflik ini ke pencitraan yang dibangun oleh masyarakat Dayak Kanayatn melalui proses dan kekerasan muncul pada tingkat pikiran. Seiring dengan munculnya pencitraan atas orang Madura, lahir pula pencitraaan diri orang Dayak Kanayatn. Dengan demikian di dalam diri mereka sendiri orang Dayak Kanayatn bergulat melawan citra Madura dan citranya sendiri.
Oleh karena itu penyelesaian konflik haruslah menyentuh tingkat pikiran pula, misalnya dengan menggali citra diri Madura bagi orang Dayak Kanayatn, mendialogkan pandangan, perbedaan dan persamaan antar-keduanya yang berpotensi memicu konflik maupun proses-proses sosio-kultural yang memungkinkan dukungan bagi upaya rekonsiliasi antara orang Dayak Kanayatn dengan orang Madura.


DAFTAR PUSTAKA
Endonesia.com/Asal-usulKonflik EtnisMadura-Dayak-Indonesia.htm
Giring. 2004. Madura di Mata Dayak: Dari Konflik ke Rekonsiliasi. Yogyakarta: Galang Press.
Petebang, Edi. 1999. Dayak Sakti, Ngayau, Tariu, mangkok Merah: Konflik Etnik di Kalimantan
Barat. 1996/1997. Pontianak: IDRD.
*Berdasar pada sumber maka tulisan ini hanya dilihat dari perspektif orang Dayak Kanyatn

1 Comments

  1. kanayatn itu suku tertua di kalimantan.
    mereka punya ajaran tua warisan turun temurun seperti yang orang jawa kenal yaitu sangkan paraning dumadi.

    ReplyDelete