SELEKSI ALAM DALAM TEORI DARWINISME



1. Pendahuluan 

Sejak dahulu kala manusia selalu mempertanyakan asal-usul kehidupan dan dirinya. Jawaban sementara atas pertanyaan tersebut ada tiga alternatif, yaitu penciptaan, transformasi, atau evolusi biologi.

Definisi evolusi biologi bermacam-macam tergantung dari aspek biologi yang dikaji. 
Evolusi (dalam kajian biologi) berarti perubahan pada sifat-sifat terwariskan suatu populasi organisme dari satu generasi ke generasi berikutnya. Perubahan-perubahan ini disebabkan oleh kombinasi tiga proses utama: variasi, reproduksi, dan seleksi. Sifat-sifat yang menjadi dasar evolusi ini dibawa oleh gen yang diwariskan kepada keturunan suatu makhluk hidup dan menjadi bervariasi dalam suatu populasi. Ketika organisme bereproduksi, keturunannya akan mempunyai sifat-sifat yang baru. Sifat baru dapat diperoleh dari perubahan gen akibat mutasi atau pun transfer gen antar populasi dan antar spesies. Pada spesies yang bereproduksi secara seksual, kombinasi gen yang baru juga dihasilkan oleh rekombinasi genetika, yang dapat meningkatkan variasi antara organisme. Evolusi terjadi ketika perbedaan-perbedaan terwariskan ini menjadi lebih umum atau langka dalam suatu populasi.

Evolusi pada makhluk hidup adalah perubahan-perubahan yang dialami makhluk hidup secara perlahan-lahan dalam kurun waktu yang lama dan diturunkan, sehingga lama kelamaan dapat terbentuk species baru: evolusi adalah perubahan frekuensi gen pada populasi dari masa ke masa; dan evolusi adalah perubahan karakter adaptif pada populasi dari masa ke masa.

Ide tentang terjadinya evolusi biologis sudah lama menjadi pemikiran manusia. Namun, di antara berbagai teori evolusi yang pernah diusulkan, nampaknya teori evolusi oleh Darwin yang paling tepat . Darwin mengajukan dua teori pokok yaitu spesies yang hidup sekarang berasal dari spesies yang hidup sebelumnya, dan evolusi terjadi melalui seleksi alam. Perkembangan tentang teori evolusi sangat menarik untuk diikuti. Darwin berpendapat bahwa berdasarkan pola evolusi bersifat gradual, berdasarkan arah adaptasinya bersifat divergen dan berdasarkan hasilnya sendiri selalu dimulai terbentuknya varian baru.

Dalam perkembangannya teori evolusi Darwin mendapat tantangan (terutama dari golongan agama, dan yang menganut paham teori penciptaan – Universal Creation), dukungan dan pengkayaan-pengkayaan. Jadi, teori sendiri juga berevolusi sehingga teori evolusi biologis yang sekarang kita kenal dengan label “Neo Darwinian” dan “Modern Sintesis”, bukanlah murni seperti yang diusulkan oleh Darwin. Berbagai istilah di bawah ini merupakan hasil pengkayaan yang mencerminkan pergulatan pemikiran dan argumentasi ilmiah seputar teori evolusi: berdasarkan kecepatan evolusi (evolusi quasi dan evolusi quantum); berdasarkan polanya (evolusi gradual, evolusi punctual, dan evolusi saltasi) dan berdasarkan skala produknya (evolusi makro dan evolusi mikro).

Makalah ini membahas perkembagan teori evolusi Darwin dan implikasi dari teori evolusi biologi Darwin terhadap cara pandang kita tentang keberadaan makhluk dan alam semesta. 


2. Perkembangan Teori Evolusi Darwin 

Sejarah Singkat Charles Darwin (1809 – 1882) 
1831-1836: Perjalanan laut dengan kapal Beagle.
1844: Draft buku “Origin of Species by Means of Natural Selection” telah selesai.
1858: Afred Russel Wallace mengirim manuscript kepada J. Hooker anggota Royal Society, berisi tentang perluasan ide dari Malthus. Makalah bersama oleh Darwin dan Wallace di forum Society.
1859: Publikasi buku “On The Origin of Species by Means of Natural Selection”

Tahun 1858 Darwin mempublikasikan The Origin yang memuat 2 teori utama yaitu:

1. Spesies yang hidup sekarang berasal dari spesies lain yang hidup di masa lampau.
2. Evolusi terjadi melalui seleksi alam.

Menurut Darwin, agen tunggal penyebab terjadinya evolusi adalah seleksi alam. Seleksi alam adalah “process of preserving in nature favorable variations and ultimately eliminating those that are ‘injurious’”
(Proses melestarikan variasi yang menguntungkan di alam dan pada akhirnya mengeliminasi mereka yang 'merugikan’).

1860: Perdebatan antara Huxley dan Wilbeforce tanpa kehadiran Darwin.

Darwin menghabiskan sisa masa hidupnya untuk penelitian dan publikasi buku “Descen of Man” (1871) dan “The Expression of Emotion in Man and Animals” (1871).

Buku “On The Oringin of Species by Means of Natural Selection” sempat mengguncangkan dunia ilmu pengetahuan karena isinya yang cukup kontroversial untuk masa itu. Kontroversial muncul karena adanya kesalahan penafsiran atas pernyataan yang dikeluarkannya. Dalam buku tersebut, Darwin menyatakan bahwa semua makhluk hidup yang ada di bumi ini merupakan hasil dari moyang yang sama, yang mengalami modifikasi. Dengan kata lain, teori ini menyatakan bahwa spesies berevolusi melalui proses perubahan bertahap dari berbagai spesies yang telah ada.

Teori yang dikeluarkan Darwin merupakan hasil analisis data yang didapat dari proses observasinya selama keikutsertaannya dalam ekspedisi-ekspedisi yang diikutinya. 


3. Perkembangan Teori Evolusi 

Banyak hal dan pemikiran ahli lain yang mempengaruhi perkembangan teori Darwin, antara lain:
Ekspedisi ke lautan Galapagos ditemukan bahwa perbedaan bentuk paruh burung Finch disebabkan perbedaan jenis makanannya.
Geolog Charles Lyell (1830) menyatakan bahwa batu-batuan di bumi selalu mengalami perubahan. Menurut Darwin, hal-hal tersebut kemungkinan mempengaruhi makhluk hidupnya. Pikiran ini juga didasarkan pada penyelidikannya pada fosil.

Pendapat ekonom Malthus yang menyatakan adanya kecendrungan kenaikan jumlah penduduk lebih cepat dari kenaikan produksi pangan. Hal ini menimbulkan terjadinya suatu persaingan untuk kelangsungan hidup. Oleh Darwin hal ini dibandingkan dengan seleksi yang dilakukan oleh para peternak untuk memperoleh bibit unggul.

Pendapat beberapa ahli seperti Geoffroy (1829), WC Wells (1813), Grant (1826), Freke (1851), dan Rafinisque (1836).

Secara umum, tanggapan ahli lain terhadap teori Darwin adalah:
a. Mendapat tantangan terutama dari golongan agama, dan yang menganut paham teori penciptaan (Universal Creation).
b. Mendapat pembelaan dari penganut Darwin antara lain, Yoseph Hooker dan Thomas Henry Huxley (1825-1895).
c. Mendapat kritik dan pengkayaan dari banyak ahli antara lain Morgan (1915), Fisher (1930), Dobzhansky (1937), Goldschmidt (1940) dan Mayr (1942).

Dengan berbagai perkembangan dalam perkembangan dalam ilmu biologi, khususnya genetika maka kemudian Teori Evolusi Darwin diperkaya. Seleksi alam tidak lagi menjadi satu-satunya agen penyebab terjadinya evolusi, melainkan ada tambahan faktor-faktor penyebab lain yaitu: mutasi, aliran gen, dan genetic drift. Oleh karenanya teori evolusi yang sekarang kita seirng disebut Neo-Darwinian atau Modern Systhesis.

4. Teori Evolusi Darwin 
Asal Usul Spesies
Teori utama Darwin bahwa spesies yang hidup sekarang berasal dari spesies lain yang hidup di masa lampau dan bila diurut lebih lanjut semua spesies makhluk hidup diturunkan dari nenek moyang umum yang sama. Seperti yang juga diperkirakan oleh Darwin. Teorinya akan ditentang banyak pihak. Para penentang teori ini berpendapat bahwa teori Darwin tersebut tidak cukup “ilmiah” dan bahwa masing-masing spesies diciptakan khusus oleh yang Maha Kuasa untuk tujuan tertentu.

Untuk para penentangnya Darwin cukup menandaskan bahwa keajaiban-keajaiban atau intervensi dari kekauatan supranatural dalam pembentukan spesies adalah tidak ilmiah. Banyak yang percaya bahwa Charles Darwin menulis buku berjudul The Origin of the Species (Asal Usul Spesies), bahwa “spesies” yang dimaksudkan adalah manusia, dan bahwa manusia adalah keturunan kera. Sebenarnya adalah, The Origin of the Species adalah kependekan dari On The Origin of Species by Means of Natural Selection (Asal Usul Spesies dengan Cara Seleksi Alam) seperti yang telah saya katakan pada pembahasan sebelumnya. “Spesies” yang dimaksudkan adalah semua spesies makhluk hidup, termasuk tumbuhan dan hewan bukan hanya manusia.

Seleksi Alam
Darwin mengemukakan bahwa seleksi alam merupakan agen utama penyebab terjadinya evolusi. Darwin (dan Wallace) menyimpulkan seleksi dari prinsip yang dikemukakan oleh Malthus bahwa setiap populasi cendrung bertambah jumlahnya seperti deret ukur, dan sebagai akibatnya cepat atau lambat akan terjadi perbenturan antar anggota dalam pemanfaatan sumber daya khususnya bila ketersediaannya terbatas. Hanya sebagian, seringkali merupakan bagian kecil, dari keturunannya bertahan hidup: sementara besar lainnya tereliminasi.

Anggota populasi yang membawa genotype yang lebih adaptif (superior) berpeluang lebih besar untuk bertahan daripada keturunan yang inferior. Jumlah individu keturunan yang superior akan bertambah sementara jumlah individu inferior akan berkurang dari satu generasi ke generasi lainnya. Seleksi alampun juga masih bekerja, sekalipun jika semua keturunan dapat bertahan hidup dalam beberapa generasi. Contohnya adalah pada jenis fauna yang memiliki beberapa generasi dalam satu tahun. Jika makanan dan sumberdaya yang lain tidak terbatas selama suatu musim, populasi akan bertambah seperti deret ukur dengan tidak ada kematian di antara keturunannya. Hal itu tidak berarti seleksi tidak terjadi, karena anggota populasi dengan genotype yang berbeda memproduksi keturunan dalam jumlah yang berbeda atau berkembang mencapai matang seksual pada kecepatan yang berbeda. Musim yang lain kemungkinan mengurangi jumlah individu secara drastis tanpa pilih-pilih. Jadi pertumbuhan dan seleksi kemungkinan akan dilanjutkan lagi pada tahun berikutnya.

Dalam kondisi seleksi yang lunak atau halus semua individu atau jenis pembawa genotype yang bermacam-macam dapat bertahan hidup ketika populasi berkurang. Alam memastikan yang terkuatlah yang bertahan hidup- yang terkuat bukan selalu yang paling sehat, tetapi yang paling sesuai beradaptasi dengan lingkungan di sekelilingnya. Individu yang sesuai dengan lingkungan dapat bertoleransi dengan lingkungan tidak harus mereka yang paling kuat, paling agresif atau paling bertenaga, melainkan mereka yang mampu bereproduksi menghasilkan keturunan dengan jumlah.

Fosil
Para tokoh evolusi mempercayai penemuan fosil-fosil sebagai bukti terjadinya evolusi. Apabila paham evolusi mengandung kebenaran, maka penemuan fosil-fosil dalam lapisan-lapisan tanah seharusnya menunjukkan adanya kesinambungan dari bentuk yang paling sederhana kepada bentuk yang sangat kompleks, dan dari hasil fosil yang tertua sampai yang termuda sekarang ini. Kenyataannya adalah sebaliknya, banyak mata rantai yang hilang dan adanya penemuan fosil-fosil yang berusia tua berada pada lapisan tanah yang muda dan fosil yang berusia muda berada pada lapisan yang tua, bahkan ada yang bercampur. Ini menunjukkan sisa-sisa makhluk hidup yang terkubur dalam proses-proses alami kemudian tersawetkan permanen, termasuk sisa-sisa rangka, cetakan kehidupan, kotoran, jejak, liang binatang. Teori evolusi tidak mampu menjawab kenyataan adanya bermacam-macam fosil bintang laut yang tidak bertulang belakang yang bersifat multiseluler dalam batu-batuan zaman Cambrium yang lebih rendah serta ketidak hadirannya dalam batu-batuan dari pembagian zaman yang besar. Selain itu, penjelasan antara mata rantai yang satu dengan mata rantai yang lain akan mengalami rintangan, yaitu lompatan yang sangat jauh yang tak terbayangkan. 

Fosil transisi 
Fosil transisi (populer disebut rantai yang hilang) adalah fosil sisa-sisa bentuk perantara kehidupan yang menggambarkan suatu evolusi transisi. Mereka dapat diidentifikasi oleh retensi mereka primitif tertentu (plesiomorphic) sifat dibandingkan dengan mereka yang lebih berasal kerabat, seperti yang didefinisikan dalam studi cladistics . Banyak contoh yang ada, termasuk primata dan manusia awal . 

5. Hubungan dengan Teori Evolusi
Pada tahun 1859, ketika The Origin of Species diterbitkan pertama kali, catatan fosil itu kurang dikenal, dan Darwin menggambarkan kurangnya fosil transisional sebagai "yang paling jelas dan paling parah keberatan yang dapat mendesak terhadap" teori saya, tetapi menjelaskan dengan ketidaksempurnaan ekstrim dari catatan geologi. Dia mencatat koleksi terbatas yang tersedia pada waktu itu, tetapi menggambarkan informasi yang tersedia sebagai menunjukkan pola yang diikuti dari teorinya tentang keturunan dengan modifikasi melalui seleksi alam. Memang, Archaeopteryx ditemukan hanya dua tahun kemudian, pada tahun 1861, dan merupakan bentuk peralihan klasik antara dinosaurus dan burung. fosil transisi lebih Banyak telah ditemukan sejak itu dan kini dianggap bahwa ada banyak bukti tentang bagaimana semua kelompok utama hewan yang terkait, sebagian besar dalam bentuk fosil transisi.

Istilah populer digunakan untuk memilih bentuk peralihan adalah "rantai yang hilang". Istilah ini cenderung digunakan dalam media populer, namun dihindari dalam pers ilmiah yang berkaitan dengan wujud rantai hilang, sebuah konsep pra-evolusioner sekarang ditinggalkan. Pada kenyataannya, penemuan fosil transisi membuat banyak "rantai yang hilang" makin hilang. 

6. Kesimpulan 

Untuk membuktikan bahwa proses evolusi telah berlaku kenyataan dari sejarah adalah diperlukan dan ianya hanya boleh diperoleh dari fosil-fosil. Rekod-rekod fosil tidak menunjukkan siri-siri fosil yang berturutan dimana terdapat perubahan yang beransurdari bentuk yang mudah ke bentuk yang kompleks. Saat ini, teori Darwin dipandang sebagai hal yabg memang sewajarnya oleh begitu banyak orang sampai sukar membayangkan bahwa itu sebenarnya kelompok gagasan yang dikumpulkan dan disampaikan satu orang. Charles Darwin dan teorinya sudah diterima. Keseluruhannya melalui teori evolusi, Darwin membuat kesimpulan bahwa dia tidak pernah mengenal teori mutasi yang memungkinkan adanya perubahan mengejut pada keturunan. Beliau hanya percaya bahwa hanya alam sekitar saja yang boleh menimbulkan modifikasi yang disampaikan oleh plasma darah. Dari sifat analogi hewan dan tumbuhan Darwin juga yakin bahwa organisme hidup itu berasal dari satu moyang. Ini telah diperkuat oleh penemuan beliau sendiri bahawa hewan berasal dari proses yang serupa dan mempunyai keserupaan bentuk.




(Hermina Welin Wulohering 2010)


No comments:

Post a Comment