Hutan Besar ...
Malam ini aku begitu bahagia, rasanya seperti baru kali ini mendapatkan apa yang dinamakan kebebasan - atau biar lebih funky kita sebut freedom saja. Entahlah ya... Sensasinya seperti young, wild and free. Agak lebay sih memang, tapi ini lah sesungguhnya yang aku rasakan: kebahagiaan yang meluap-luap. Rasa bahagia akan freedom ini mulai menggebu saat aku dan kedua temanku dalam perjalanan menuju lokasi Kuliah Kerja Nyata (KKN) kami di Dukuh Blotan. Ini adalah malam penutupan KKN sekaligus perpisahan. Mungkin orang lain yang juga merasakan KKN baik teman-teman sekelompokku atau bukan, atau bahkan mereka yang KKN-nya lebih ekstrim dan tradisionalis tidak sebahagia ini di hari terakhir KKN. Ada yang biasa saja alias normal disertai 'sesuatu', ada yang tawar seperti batu dan ada yang sampai tersedu-sedu karena akan mengakhiri kebersamaan yang telah dijalani selama beberapa bulan.



Berakhirnya KKN berarti saya tidak perlu lagi pusing memikirkan bagaimana, dengan siapa dan kapan aku harus ke lokasi dan kembali ke kampus/kost. Berakhirnya KKN artinya tidak perlu lagi menjadi satu-satunya perempuan (sebenarnya dua tapi kurang berasa) di antara 10 lelaki dalam tim yang cukup membosankan. Berakhirnya KKN berarti tidak perlu lagi bolos kuliah hanya untuk 'duduk-duduk kering' di dukuh. Dan, berakhirnya KKN  (semestinya) berarti pula tidak ada lagi penundaan tugas-tugas. Itulah mungkin alasan kenapa berakhirnya KKN menjadi sesuatu yang memerdekakan.
Sebenarnya tadi aku nyaris terlelap di bawah selimut malam. Namun ketika aku berpikir tentang perasaan bebas ini lagi aku tiba-tiba saja teringat tentang kebebasan-kebebasan lain yang jauh lebih berharga. Aku yang KKN dua bulan (Maret-Mei) ketika bebas bahagia dan syukurnya luar biasa. Bayangkan bagaimana perasaan mereka-mereka yang terpaksa tunduk terkekang pada masa kolonial. Apa ya yang mereka rasakan ketika pertama kali sadar bahwa mereka telah menang mengusir penjajah? Seekspresif aku kah yang sampai ingin teriak sekencang-kencangnya dan ingin ceburkan diri ke laut? Bagaimanakah cara mereka bersyukur? Apa kah mereka akan lupa segala duka yang mereka rasakan selama 'masa yang harus dienakkan' itu dan hanya mengingat sukanya saja? Tentang solidaritas yang muncul ketika mereka bersatu melawan penjajah.

Kita bangun pagi hari dan bersyukur kepada Sang Pencipta untuk segala hal yang boleh kita nikmati. Namun kadang kita lupa mengucap syukur kepada mereka yang berjuang menganugerahkan kebebasan kepada kita sehingga kita boleh bersyukur kepada Sang Pencipta untuk segala hal yang boleh kita nikmati. Kebebasan memang tidak diperoleh dengan cuma-cuma. Freedom is not free. Ada orang lain yang kehilangan nyawanya sehingga kita boleh bebas. Terima kasih, Veteran!
Ada sejumlah hal yang harus dikorbankan demi kebebasan. Dan kebebasan yang saya maksudkan ini adalah bukan sekedar waktu dan apa saja yang boleh kita dapatkan. Kebebasan juga berarti hak untuk salah, bukan hak untuk melakukan kesalahan. Mungkin kita perlu lebih banyak belajar untuk respect pada mereka yang menghalangi kebebasan kita, dengan menggunakan kebebasan itu sendiri secara tepat.

KKN ini memang sudah mengasah beberapa hal penting dalam diriku seperti lebih sabar (menghadapi kemalasan orang lain), lebih memahami (bahwa tidak setiap orang punya penghargaan yang tinggi terhadap diri sendiri sehingga dapat memaksimalkan otak & hati), lebih care (pada hal-hal yang katanya hanya hanya bisa ditangani oleh 'Anda') dan lebih mengontrol hal-hal kecil yang seringkali dilupakan padahal penting.
Sayangnya kebebasan yang saya rasakan saat ini adalah rasa lepas dari hal-hal baik itu.

Kebebasan itu adalah tentang menjadi apa yang kita inginkan dan ekspresikan diri kita sebagaimana pilihan kita.


0 Comments