Setelah hari Jumat (24/5) malam saya dimerdekakan dari KKN, saya berencana untuk melakukan sesuatu sebagai selebrasi dari kebebasan ini. Maunya sih nyebur ke laut tapi tidak kesampaian. Ada beberapa teman yang mengajak ke Borobudur, Magelang untuk mengikuti upacara peringatan Waisak oleh umat Budha. Memang yang ditargetkan adalah acara puncaknya yaitu ritual pelepasan seribu lampion. Namun dengan pertimbangan jalanan arah Jogja-Magelang akan macet maka teman-teman saya memutuskan untuk berangkat pagi-pagi subuh. Ya jelas, saya langsung menolak tawaran itu karena sadar saya tidak mampu, oleh karena kecapean dan waktu itu saya begadang  nonton X-Factor yang mengecewakan sama teman-teman sampe jam setengah tiga. Jam 10 baru bangun, akhirnya hari Sabtu ini akan menjadi hari malas-malasan di kost dengan sharing ter-update bersama sahabat-sahabat tersayang sambil ber-youtube ria.
Tiba-tiba jam 11-an saya dihubungi teman saya yang lain dan diajak ke Borobudur jam 2 siang nanti. Yahooo!!  Berhubung badan ini sudah recharge, jadi langsung deal saja.

Molor dulu seperti biasanya, dan kami pun berangkat dari markas di kampus Condong Catur jam 3-an. Jogja agak mendung waktu itu, tapi everything was going fine. Sampai di daerah Tempel kami kehujanan dan harus berhenti sejenak untuk memakai jaket anti peluru hehe (jas hujan-red). Jalanan padat sekali dan macetnya luar biasa. Hujan yang kian deras pun membuat perjalanan ini agak dramatis :D Ditambah lagi 'rombongan' kami sempat terpisah di jalan alternatif. Tapi melihat daerah Borobudur terang cerah bercahaya dan tidak ada tanda-tanda akan turun hujan, semangat kami makin melunjak.
Sampai di TKP, kami parkir sepeda motor di salah satu rumah warga setempat (free park) dan berjalan menuju pintu masuk lewat Hotel Manohara. Perjuangan untuk masuk dari gerbang Manohara ke kaki Candi Borobudur lumayan keras, mulai dari berdesak-desakan masuk sampe terpisah sama dua orang teman yang lain. Manusia yang hadir malam itu super banyak; entah turis lokal maupun mancanegara. Kalo liat berita di TV katanya kira-kira waktu itu ada ribuan orang yang mengunjungi candi. Tapi tidak jelas berapa ribu.


Dari gerbang Manohara Hotel ke kaki candinya kami harus berjalan kaki agak jauh. Sampai di sana melewati satu kali security check lagi dan baru sampai di kaki candi. Ada yang mengganggu pemandangan saya waktu itu. Saya dan teman-teman waktu itu lagi antri untuk security check ini, beberapa petugas yang melihat umat Buddha dengan identitas tertentu baik itu pakaian maupun tanda pengenal langsung memisahkan umat Buddha ini untuk tidak perlu melewati security check dan langsung masuk ke tempat yang disediakan untuk sembahyang. Memang pemisahan ini sangat perlu apalagi mereka lah yang paling berkepentingan di sini untuk beribadah merayakan Waisak. Namun beberapa saat setelah itu ada segerombolan anak muda yang dari penampilannya tidak terlihat seperti berkepentingan, namun dipersilakan sama pak polisinya untuk langsung melewati jalur tanpa antri dan security check. Okelah, mungkin mereka memang lebih beruntung saja dari pada kami. Namun, di saat yang sama ketika ada seorang bapak yang sudah tua beridentitaskan panitia dan membawa sejumlah kotak makanan untuk dibawa ke dalam ingin masuk lewat 'pintu cepat' itu tanpa penjelasan langsung disuruh ikut antri lewat security check. Bapak itu terlihat buru-buru dan mencoba menjelaskan tapi pak polisi memaksanya untuk ikut antri. Ckckck..

Begitu sampai di kaki candi kami pun duduk beristirahat di luar arena ibadah. Sambil menunggu kedua teman kami yang terpisah. Tiba-tiba saja hujan pelahan mengguyur Borobudur. Hiruk pikuk langsung terjadi saat itu, oleh turis lokal dan manca yang lalu lalang entah apa dan ke mana tujuannya, payung-payung yang berjejeran, suara & blits jeprat jepret kamera, serta kerumunan dan berisiknya turis-turis yang cengengesan menunggu lampion (unfortunately, kami termasuk di dalamnya). Mungkin sensasinya itu seperti nonton konser di alun-alun. Saya pun berpikir, ya ampun kasihan sekali umat Buddha ini, pasti ibadah mereka menjadi tidak khusyuk dan terganggu oleh kami para turis yang justru jumlahnya lebih banyak dari mereka.

Sampai jam 7 malam para biksu sudah berkumpul di panggung, siap untuk memanjatkan doa bersama dan candi masih terus dipadati oleh ribuan manusia tapi acara masih belum juga dimulai karena masih menunggu kedatangan Yth. Menteri Agama RI, Bapak Suryadarma Ali. Pengunjung spontan bersorak kesal dengan alasan sudah menunggu lama. Ada yang berteriak "Kapan acara lampionnya?". Justru umat Buddha di karpet kuning sana diam dan tidak frontal. Sekitar satu jam kemudian akhirnya Menteri Agama datang disambut sorakan kecewa yang panjang. Selama acara dan sambutan-sambutan disampaikan termasuk dari pemuka agama Buddha, pengunjung pun tidak tenang, berteriak dan bercanda tertawa.
Acara memang belum selesai namun teman-teman give up karena lapar, dingin, basah. Kami pun memutar kompleks candi untuk bisa sampai di jalan keluarnya. Sampai di luar kami makan sebentar dan berjalan lagi ke parkiran. Istirahat sebentar di sana sambil menunggu dua teman kami yang terpisah tadi. Jaringan komunikasi menjadi sangat ribet dan susah. Dan ternyata keputusan kami untuk kembali ke Jogja adalah tepat karena kami dapat menghindari macet yang lebih dahsyat dari waktu itu (jam 9). Dan ternyata acara yang ditunggu-tunggu, yaitu pelepasan 1.000 lampion terpaksa dibatalkan karena hujan tetap turun dengan derasnya.
Saat kami meninggalkan kawasan Candi Borobudur sebagian pengunjung lain juga mulai berarak meninggalkan area candi.

Upacara Waisak mestinya menjadi ibadah sakral dan khusyuk bagi umat Buddha, namun yang terjadi malah sebaliknya cuma karena pengunjung yang ingin eksis. Semoga bisa dijadikan pelajaran bagi kita para pengunjung alias turis yang ingin numpang berwisata dalam kegiatan ibadah umat lain. Harus belajar lebih bijak saat numpang wisata di upacara keagamaan umat beragama lain. Dan juga untuk panitia akan lebih baik kalau perayaan waisak mendatang, pintu dibedakan bagi umat Buddha dengan yang sekedar pingin eksis.

PS: Buat teman-teman; Vita, Titin, Monic, Dion, Berta, Tika, Bayu, Elva YOU GUYS ROCK! :D Silakan mencoba peruntungan tahun depan. Jadilah turis yang bijak yang menghargai hak beribadah orang lain. Semoga nanti tua tidak lupa akan hari itu. Hujan badai kita hadapi ... LOL

8 Comments

  1. Tadinya saya fikir bakal nyesel karena nggak bisa ke borobudur pas waisak. telah baca ini saya baru tau kenapa Allah menggagalkan rencana saya untuk kesana :) thanks infonya bermanfaat gan.

    ReplyDelete
  2. wah asiknyaaaa jalan2 mbak! ^_____^
    pas waisak jadi makin rame tuh candi.

    ReplyDelete
  3. Saya sengaja membatalkan rencana ke Borobudur setelah memabaca diskusi di salah satu forum fotografer tanah air.

    ReplyDelete
  4. Iya tuh banyak yang mentang-mentang nenteng DSLR terus ngaku fotografer. Untuk jadi fotografer itu bukan hanya sekedar skill dan kamera canggih, tapi juga perlu etika.

    ReplyDelete