Hari ini menyenangkan dan menenangkan. Harusnya sore usai kantor, aku ada dua sesi les, mengajar bimbel di rumah anak-anak. Namun, anak les sesi pertama, pukul 15.30 - 17.00, meminta reschedule les hari ini. Karena sudah terlanjur bersiap pergi les, aku memutuskan memakai waktu les ini untuk ke salon menata rambutku. Dari salon, tiba-tiba saja aku kepikiran untuk pergi adorasi. 

Sudah lama sekali sejak terakhir aku melakukan adorasi atau penyembahan Sakramen Maha Kudus. Di Katedral St. Yoseph Maumere, ada kapel adorasi abadi. Jadi meskipun pintu-pintu gereja terkunci, kapel ini akan selalu terbuka. Terakhir aku datang adalah pada Agustus tahun lalu ketika belum lama aku kembali dari Jakarta.

Lingkungan gereja katedral sepi sekali hari ini. Tidak ada penjaga di pos satpam. Aku melepas alas kakiku, membuka pintu, dan melangkah masuk ke kapel adorasi. Meski udara agak panas, namun kesunyian kapel membuatku tenang. Aku juga bahagia karena tak ada siapapun dalam kapel ini. Aku memilih bertelut di sudut kiri kapel.

Aku mulai dengan menyiapkan diriku. Kutundukkan hati dan mengangkat kepalaku mengarah pada sentral kapel. Entah kenapa selalu ada rasa haru, tersentuh, setiap kali menatap monstrans. Kulihat jam tanganku, sudah tiga menit berlalu. Aku lalu mengambil sedikit saat teduh, hanya memejamkan mata dan mengosongkan pikiran, sebelum mulai berdoa. Di momen ini, aku datang kepada Tuhan dan secara bertanggungjawab bilang kepada Tuhan, "Inilah aku, Tuhan. Dalam keheningan, aku ingin duduk bersama-Mu, dalam damai."

Aku melanjutkan menatap monstrans, yang berisikan Tuhan Yesus - tubuh, jiwa, darah, dan keilahian-Nya - dan tersenyum. Aku kembali memejamkan mata dan berdoa. Ketika aku membuka mata, 30 menit telah berlalu. Aku tak menyangka, 30 menit aku bisa berdoa, aku pikir paling hanya 5-10 menit, karena sudah lama sejak terakhir kali aku datang. Aku gembira, bukan karena telah berdoa selama setengah jam, tetapi karena aku merasa Tuhan telah menenangkan hatiku. Aku bersyukur atas kesempatan untuk berlutut dan menatap Tuhan.

Masih aku sendirian di kapel ini. Aku mengambil ponselku membuka Spotify untuk memutar instrumental lagu-lagu adorasi. Lagu Latin Tantum Ergo adalah favoritku. Musik ini menemaniku membaca Mazmur 34 dari Google Chrome. Mazmur adalah kitab favoritku. Tidak biasanya aku membaca perikop Kitab Suci saat adorasi. Namun hari ini aku mau menjadikan Kitab Suci sebagai bagian dari doaku. Setelah itu aku kembali mendaraskan Doa kepada Sakramen Maha Kudus yang ditulis oleh St. Alfonsus Maria de Liguori. Aku lalu mengakhiri waktuku di kapel dengan menyebut santo-santa pelindungku dan keluargaku supaya mendoakanku.

Aku meninggalkan kapel dan duduk di salah satu bangku di halaman gereja, menikmati angin sore. Hatiku dipenuhi dengan kedamaian, kepuasan, dan kegembiraan. Kulihat kembali jam tanganku, aku masih punya cukup waktu untuk berdoa Rosario. Akupun berjalan menuju Gua Maria di sisi barat gereja. Aku merenungkan tiga peristiwa gembira. Rosario adalah doa yang didoakan oleh banyak orang kudus. Bahkan St. Yohanes Paulus II pernah bilang, "Rosario adalah doa favoritku." Ya, rosario adalah doa yang indah.

Indah, hari ini juga begitu indah. Biasanya aku menghabiskan waktu istirahat sore atau jedah les dengan ponselku tetapi hari ini aku berlutut dan bisa fokus menyembah Tuhan. Setiap hari Senin-Jumat adalah hari yang padat buatku, sehingga benar-benar diam dan fokus mestinya terasa kurang nyaman. Namun, hanya butuh beberapa menit untuk masuk dalam keheningan.

Tuhan, terima kasih Engkau telah menempatkan sesuatu di hatiku, keinginan untuk lebih mengenal-Mu dalam Sakramen Maha Kudus.

Dalam perjalanan menuju rumah anak les sesi dua, aku berkata kepada diriku sendiri, "Sekarang aku tahu, ke mana aku harus pergi di sela-sela jedah les: pergi ke kapel adorasi, meskipun hanya 5 menit. Tuhan ingin bersamaku, agar aku menatap-Nya, sebagaimana Dia dengan penuh kasih menatapku."


0 Comments