“Sudah paham kan sejauh ini?
Ku yang lama di sini
Menjagamu tak patah hati
Sedia aku sebelum hujan
Apa yang kau butuh, kuberikan
Ke mana pun tak akan kau temukan
Yang siapkan bekalmu di peperangan
Jika tak setara, kumaafkan
Memang sebegitunya aku.”

What comes to your mind when listening to this song?
Aku mengenal lagu Sedia Aku Sebelum Hujan bukan dari Spotify, tapi dari potongan-potongan post di media sosial. Seperti kebanyakan lagu viral, ia lewat begitu saja. Sepenggal, berulang, dan berhenti di tengah. Tidak cukup lama untuk benar-benar memahami keseluruhan kisahnya.

Sampai saat libur Natal kemarin, aku iseng memasukkan lagu ini ke WhatsApp story. Alasannya sepele: waktu itu aku malas memilih background song, dan lagu ini muncul paling atas di daftar pilihan. Nah, karena itu story-ku, aku jadi punya “alasan” untuk mendengarkannya berulang kali. Padahal, jujurly, aku tidak begitu menikmati lagu Indonesia. Tapi seperti manusia lainnya, aku juga menonton storyku sendiri berkali-kali (wkwk).

Dari situ, potongan chorus yang selama ini terputus mulai terasa utuh. Aku lalu membuka Spotify, memutar lagunya dengan sadar, berusaha mempelajari liriknya pelan-pelan.

Aku suka lagu ini. Easy to listen. Vibenya sunyi. Tidak meledak. Tidak memaksa. Mungkin karena itu, ia terasa dekat.
Tapi aku tiba-tiba merasa sedih. Bukan sedih yang dramatis sih, tapi kayak sedih yang tenang. Sedih yang biasanya datang ketika kita menyadari sesuatu tentang diri sendiri, if you know what I mean.

Lagu ini membuatku berpikir tentang perempuan. Tentang bagaimana, sering kali, perempuanlah yang selalu “sedia”.
Sedia memahami.
Sedia menunggu.
Sedia mengalah.
Sedia bahkan sebelum hujan itu benar-benar turun.

Lalu muncul pertanyaan dalam benakku: bukankah selama ini kita diajarkan bahwa laki-laki adalah pihak yang “menyediakan”? Pelindung. Penopang. ProviderTapi kenapa, dalam begitu banyak relasi, justru perempuan yang mempersiapkan diri lebih dulu, bahkan untuk kemungkinan terluka?

Bagian yang paling membuatku merasa nano-nano adalah kalimat: “Jika tak setara, kumaafkan… Memang sebegitunya aku…” Sedih tidak, sih? Tidak ada kemarahan di sana. Tidak ada tuntutan. Hanya penerimaan yang lelah.

Mungkin kalau dalam kajian gender, pengalaman seperti ini yang sering dibahas lewat konsep emotional labor. Kerja emosional yang tidak terlihat dan jarang dihitung. Termasuk di dalamnya: kemampuan membaca perasaan orang lain, menjaga harmoni relasi, serta menahan emosi diri demi kenyamanan bersama. Aku pernah baca ada penelitian yang bilang bahwa kerja emosional secara tidak proporsional dibebankan pada perempuan, baik di ruang domestik maupun dalam relasi romantis.

Sejak kecil, perempuan disosialisasikan untuk menjadi “yang mengerti”. Kalau kita perhatikan dalam keluarga, sekolah, atau komunitas lainnya, (anak) perempuan biasanya dituntut untuk lebih mengerti suasana. Mengerti keadaan. Mengerti kapan harus bersabar sedikit lagi.

Maka tidak mengherankan jika banyak perempuan tumbuh dengan keyakinan diam-diam bahwa mencintai itu berarti bertahan. Bahwa mencintai berarti “siap lebih dulu”, memberi lebih banyak, dan berharap suatu hari semuanya akan terasa setara dengan sendirinya. Padahal, menurutku cinta tidak seharusnya selalu terasa seperti kesiapsiagaan menghadapi badai.

Lagu ini jadi relate karena jujur menggambarkan kelelahan menjadi pihak yang selalu siap, bahkan ketika belum ada kepastian akan dipeluk setelah hujan. Dan mungkin, refleksi terpenting yang kutarik dari lagu ini bukan untuk menyalahkan diri sendiri karena “mencintai terlalu keras”. Melainkan keberanian untuk bertanya ulang: apakah cinta memang harus selalu menuntut kesiapan sepihak?

Of course, I don’t want to stop loving deeply. I just want to learn to love without always having to be ready for the rain. Maybe, maturity in love begins when readiness is shared, when it is no longer carried by one person alone.

PS. Jangan menganalisa tulisan ini terlalu serius, apalagi sampai berasumsi.

~Her.
Jan. 4, 2025

0 Comments