Tahun 2025 di Lé Orin terasa seperti menjaga lilin kecil di tengah angin kencang Hampir padam berkali-kali tapi entah bagaimana, aku selalu menangkupinya dengan kedua tangan Tapi lilin itu bukan lilin yang sedia Ia lilin yan…

Sedia Aku Sebelum Hujan dan Perempuan yang Terlalu Siap

“Sudah paham kan sejauh ini? Ku yang lama di sini Menjagamu tak patah hati Sedia aku sebelum hujan Apa yang kau butuh, kuberikan Ke mana pun tak akan kau temukan Yang siapkan bekalmu di peperangan Jika tak setara, kumaafkan …

Aku Percaya, Maka Aku Terluka - Bukan Bodoh

“ Fool me once, shame on you; fool me twice, shame on me. ” Dulu aku pikir ungkapan di atas benar. Bahwa ditipu atau dibodohi untuk kedua kalinya oleh orang yang sama berarti kesalahan ada pada kita sebagai korban.  Seolah-olah, …

Belajar Berdamai dengan Bosan

Biasanya, tanggal 27 Desember kami sudah kembali masuk kerja. Dan seolah sudah SOP-nya, aku berangkat dengan muka asam dan hati penuh keluhan: “Kenapa cepat sekali liburnya habis?” Tahun ini berbeda. Hari ini, tanggal 27, masih l…

Untuk-Mu, Bayi di Palungan

Aku datang kepada-Mu membawa diriku yang utuh lelah yang jujur harap yang tetap menyala syukur yang sederhana namun senantiasa tinggal Aku membawa setahun perjalanan langkah yang kadang mantap kadang goyah memberi meski b…

Bertahan, Bertumbuh, dan Tetap Berharap - Catatan Akhir Tahun

Tahun ini kembali mengajarkanku bahwa hidup jarang berjalan lurus. Ia lebih sering berkelok, melelahkan, dan penuh jeda. Tapi justru di situlah aku belajar mengenal diriku sendiri dengan lebih jujur. Seperti kebiasaanku setiap ta…

Beberapa waktu lalu saya menulis sebuah artikel di Ekora NTT tentang bagaimana kita memaknai pendidikan anak di era sekarang. Bukan sekadar mengejar nilai atau prestasi, tetapi menumbuhkan kebahagiaan dalam belajar yang benar-b…